Muktamar IDI ke-30, Tonggak Transformasi Menuju Indonesia Sehat

Muktamar IDI ke-30, Tonggak Transformasi Menuju Indonesia Sehat (Foto: Klikdokter)

Klikdokter.com, Jakarta Ibu kota Provinsi Kalimantan Timur, Samarinda, menjadi lokasi yang dipilih untuk penyelenggaraan Muktamar IDI ke-30, tahun ini. Sepanjang pekan ini, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mencoba merumuskan formula untuk bertransformasi menuju Indonesia Sehat.

Muktamar ini merupakan musyawarah nasional dokter Indonesia yang digelar tiap tiga tahun. Dalam muktamar yang diadakan 25-26 Oktober 2018, di Samarinda Convention Hall, Kalimantan Timur, IDI mencoba menentukan kebijakan strategis nasional. Tema Muktamar IDI kali ini adalah ‘Transformasi Sistem Pelayanan kesehatan dan Sistem Pendidikan Kedokteran yang Komprehensif dan Multisektoral menuju Indonesia Sehat’

Pembukaan acara Muktamar IDI ini dilakukan pada tanggal 25 Oktober 2018, sehari sesudah peringatan Hari Dokter Nasional ke-68. Acara ini juga dihadiri oleh Presiden RI Joko Widodo, Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Gubernur Kalimantan Timur – Ir. Isran Noor, dan seluruh Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia

Sedangkan rangkaian kegiatan Muktamar IDI ke-30 dimulai sejak tanggal 23 Oktober 2018 dengan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan sidang ilmiah.

Muktamar IDI ke-30 kali ini dihadiri oleh 1.576 peserta yang terdiri dari 885 utusan IDICabang, 256 peninjau IDI Cabang, 180 peninjau IDI Wilayah, 126 peninjau perhimpunan, 48 peninjau kolegium, dan 81 peninjau dari pengurus PB IDI. Saat ini jumlah IDI Cabang seluruh Indonesia sebanyak 441 IDI Cabang, 32 IDI Wilayah, 89 Perhimpunan, dan 37 Kolegium. Total seluruh anggota IDI saat sebanyak 157.003 yang terdiri dari 127.707 dokter 29.296 dokter spesialis.

Kualitas dokter menjadi perhatian utama

Kualitas dokter menjadi perhatian utama (Foto: Klikdokter)

Dalam sambutannya, Ketua Umum PB IDI  Prof dr. Ilham Oetama Marsis, SpOG(K)menyatakan bahwa perbaikan kualitas SDM Indonesia – khususnya kualitas dokter – menjadi  salah satu perhatian utama IDI. Hal ini terus diupayakan oleh IDI melalui advokasi pendidikan kedokteran dan program Continuing Professional Development (CPD).

IDI juga secara serius sangat memperhatikan kualitas pendidikan di lebih dari 80 fakultas kedokteran di seluruh Indonesia. Diharapkan lulusan dari pendidikan kedokteran dapat mengangkat ketertinggalan Indonesia dalam persaingan dengan negara lain.

IDI juga melihat bahwa pendidikan kedokteran masih sangat sulit dijangkau oleh masyarakat tidak mampu, karena tingginya biaya pendidikan di fakultas kedokteran. Hal ini menjadi salah satu hal yang menjadi pemikiran IDI.

Pemanfaatan teknologi untuk peningkatan daya saing

Pemanfaatan teknologi untuk peningkatan daya saing (Foto: Klikdokter)

Dalam perkembangannya, dunia kedokteran Indonesia juga memanfaatkan teknologi. Meski demikian, penguasaan teknologi kesehatan belum memperlihatkan kemampuan daya saing Indonesia dengan negara lain. Gap teknologi kesehatan sangat terlihat ketika Indonesia disandingkan dengan negara lain, bahkan bila disandingkan dengan negara-negara tingkat ASEAN, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Untuk itu, IDI mendorong agar pemanfaatan teknologi, serta pengembangan teknologi kedokteran harus mulai diperkenalkan sejak pendidikan Basic Medical Education (BME). Tantangan revolusi industri 4.0 yang berdampak luas terutama pada sektor Kesehatan harus dihadapi dengan meningkatkan kemampuan SDM kesehatan Indonesia dalam teknologi dan informasi.

Senada dengan Ketua Umum PB IDI, Presiden Joko Widodo yang meresmikan pembukaan Muktamar IDI kali ini, mengajak para dokter dan insan kesehatan untuk dapat mengikuti perubahan global. Sifat adaptif dalam menghadapi perubahan global ini sangat diperlukan demi pelayanan kesehatan yang lebih baik.

Selain itu, Presiden juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi serta informasi yang semakin pesat menuntut perubahan dalam banyak hal. Rumah sakit juga dituntut untuk mengikuti perubahan global – Revolusi Industri keempat – yang memunculkan tantangan bagi beragam industri, termasuk industri kesehatan dan manajemen rumah sakit.

Mencapai tujuan bersama transformasi menuju Indonesia Sehat memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Oleh karena itu, Muktamar IDI ke-30 kali ini menjadi semacam tonggak bahwa semua yang terlibat dalam bidang kesehatan di Indonesia harus berjalan bersama untuk mewujudkan rencana bersama tersebut. Untuk itu, diperlukan penguasaan teknologi kesehatan dan peningkatan sumber daya manusia kedokteran yang semakin berdaya saing.

[RVS]

Sumber: klikdokter