Varises Vena pada Tenaga Kesehatan

http://bucket.docquity.com/journals/editor/file-a710b75a924f2afed9102893360c555b.jpg

Bagaimana Anda mengelola pasien Anda yang menderita varises? Apakah Anda tahu Anda juga rentan untuk mengembangkannya!!! Apakah yang Anda lakukan cukup untuk mencegahnya?

Berdiri untuk waktu yang lama sangat umum bagi para profesional perawatan kesehatan, terutama ahli bedah dan perawat, yang merupakan salah satu faktor risiko paling penting untuk pengembangan varises….

Varises vena pada tungkai merupakan dilatasi vena subkutan dengan diameter ≥3 mm yang diukur dalam keadaan tegak. Vena subkutan akan tampak melebar, menonjol, dan berliku-liku pada varises vena. 1 Varises vena merupakan bagian dari penyakit vena kronis. Selain varises vena, penyakit vena kronis dapat meliputi telangiektasis, vena retikuler, hingga insufisiensi vena kronis dengan edema, perubahan kulit, dan ulkus. Varises vena sangat umum terjadi dan ditemukan pada setidaknya 10% populasi secara umum. Di Amerika Serikat, prevalensi varises vena kurang lebih 15% pada laki-laki dan 30% pada perempuan. 2

Varises vena dapat dikategorikan sebagai varises vena primer dan varises vena sekunder. Sebagian besar varises vena disebabkan oleh penyakit vena primer. Penyebab yang paling sering adalah abnormalitas morfologi atau biokimia intrinsik pada dinding vena. Varises vena primer berasal dari sistem superfisial dan merupakan hasil dari struktur dan fungsi katup vena saphena yang rusak, kelemahan intrinsik dari dinding vena, serta tekanan intraluminal yang tinggi. Hampir sebagian dari pasien ini memiliki riwayat keluarga varises. Faktor-faktor lain yang terkait dengan varises vena primer termasuk penuaan, kehamilan, terapi hormonal, obesitas, pembedahan pada tungkai, tinggi badan dan berdiri atau berjalan lama. Varises vena sekunder merupakan hasil dari hipertensi vena, terkait dengan insufisiensi vena dalam atau obstruksi vena dalam, serta vena perforantes yang tidak kompeten yang menyebabkan pembesaran vena superfisial. Fistula arteriovenosa juga dapat menyebabkan varises di anggota badan yang terkena. Varises vena juga bisa disebabkan oleh malformasi vena kongenital. 1

Pasien dengan varises vena dapat mengeluhkan penampilan yang tidak sedap dipandang, sakit, rasa berat, pruritus, dan kelelahan dini pada kaki yang terkena. Gejala-gejala ini memburuk dengan berdiri dan duduk yang berkepanjangan dan berkurang dengan meninggikan kaki di atas tingkat jantung. Edema ringan sering terjadi. Tanda-tanda yang lebih parah termasuk tromboflebitis, hiperpigmentasi, lipodermatosklerosis, ulserasi, dan perdarahan dari gugus vena dilemahkan.

Varises dapat berkembang menjadi bentuk yang lebih parah dari disfungsi vena kronis, seperti insufisiensi vena kronis (CVI). Insufisiensi vena kronis (CVI) mempengaruhi sekitar 600.000 orang di Amerika Serikat. Pada kondisi ini, pasien akan mengeluh kelelahan kaki, ketidaknyamanan, dan rasa berat pada kaki. Peningkatan hipertensi vena memulai serangkaian perubahan pada jaringan subkutan dan kulit, meliputi aktivasi sel-sel endotel, ekstravasasi makromolekul dan sel darah merah, diapedesis leukosit, edema jaringan, dan perubahan inflamasi kronis yang paling sering terjadi pada dan di atas pergelangan kaki pada insufisiensi vena kronis. Pembengkakan tungkai, pigmentasi, lipodermatosklerosis, eksim, atau ulserasi vena dapat terjadi pada pasien ini. Pada populasi dewasa, prevalensi varises sebesar 20% (kisaran, 21,8% -29,4%), dan sekitar 5% (kisaran 3,6% -8,6%) memiliki edema vena, perubahan kulit atau ulkus vena. 3 Namun, insufisiensi vena kronis berat tidak selalu berhubungan dengan varises vena.

Varises dan komplikasi yang terkait dapat menyebabkan nyeri kronis, kecacatan, penurunan kualitas hidup (QOL), kehilangan hari kerja, dan pensiun dini. 3 Tenaga kesehatan merupakan salah satu populasi yang memiliki risiko varises vena yang berhubungan pekerjaannya.

Dalam sebuah studi di Taiwan, insidensi kumulatif varises vena dari dokter, penyedia layanan kesehatan non-dokter, dan populasi umum adalah 0,12, 0,13, dan 0,13%, masing-masing selama periode 5 tahun. Risiko varises vena di antara bidang spesialisi dokter tidak jauh berbeda. Dokter bedah memiliki insidensi tertinggi (0,22%) sedangkan dokter anak dan dokter kegawatdaruratan memiliki insidensi terendah (0%). Dalam penelitian ini, tidak ditemukan adanya perbedaan risiko varises vena antara dokter, tenaga kesehatan non-dokter, dan populasi umum. 4

Pada penelitian terhadap perawat di Iran, prevalensi varises vena, dengan intensitas yang berbeda, adalah 73,9% (95% CI 65,7-78,4), dengan wanita memiliki prevalensi yang lebih tinggi (77,9% dibandingkan pria 56,9%, P = 0,003, OR = 2,7, 95% CI 1,4–5,1). Prediktor demografis yang tidak disesuaikan adalah perempuan, usia perawat yang lebih tua, masa kerja yang lebih panjang dan riwayat keluarga; sedangkan tidak berolahraga, buang air besar yang tidak teratur, duduk dan berdiri berjam-jam, BMI yang lebih tinggi, dan kerja lembur merupakan prediktor risiko pekerjaan. Setelah analisis multivariat, berdiri selama lebih dari 4 jam memiliki risiko menimbulkan varises vena (dengan intensitas yang lebih tinggi), dan peningkatan per jam kerja lembur memiliki peningkatan risiko 1-2%. Tidak berolahraga juga memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap varises vena. 5

Berikut beberapa tips yang dapat memastikan aliran darah Anda lancar dan menurunkan risiko penyakit vena.

Perbaiki Postur Anda:

Ubah posisi duduk atau berdiri Anda secara teratur. Hindari duduk dengan kaki disilangkan karena dapat mempengaruhi sirkulasi darah. Ketika berdiri dalam waktu lama cobalah menggeser berat badan Anda dari setiap kaki bergantian sebanyak mungkin.

Coba Gunakan Stoking Kompresi:

Berdiri lama mungkin menyebabkan penumpukan darah di kaki. Stoking kompresi secara efektif dapat menjaga pembuluh darah di posisi yang benar untuk memompa darah kembali ke jantung.

Perhatikan Apa yang Anda kenakan:

Hindari sepatu hak tinggi dan baju ketat di pinggang, kaki atau selangkangan, atau benda-benda lainnya yang dikenakan yang dapat mengganggu aliran darah.

Elevasi Kaki Anda:

Elevasi kaki memudahkan pembuluh darah memompa darah kembali ke jantung. Cobalah mencari cara untuk menjaga kaki tetap elevasi saat bekerja (misalnya menggunakan kursi malas) atau setidaknya saat di rumah.

Olahraga:

Olahraga dapat sangat membantu mencegah varises. Ini membantu menjaga darah mengalir dan menstimulasi otot. Anda juga dapat meluangkan waktu untuk berjalan-jalan kecil selama jam kerja, hal ini merangsang otot-otot kaki dan membantu mengatur aliran darah.

Peregangan Cepat:

Cobalah peregangan kaki cepat saat bekerja bilamana memungkinkan. Hal ini meningkatkan sirkulasi darah dan jumlah nutrisi yang masuk ke otot-otot yang akan membantu mencegah perkembangan varises.

Jaga Berat Badan Anda

Kelebihan berat badan dapat memberikan tekanan yang tidak perlu pada pembuluh darah Anda, cobalah menyingkirkan ini. Juga ikuti diet rendah garam yang dapat mencegah pembengkakan yang disebabkan oleh retensi air.

Kunci untuk kaki sehat adalah menemukan keseimbangan yang konsisten antara berdiri dan duduk. Melakukan tips ini akan membantu Anda untuk mencegah perkembangan varises dan tidak akan menghalangi Anda dalam komitmen terhadap pasien. Take care!!!

Manfaat Suplemen Zinc dalam Mengatasi Diare pada Balita

Diare merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dialami oleh anak usia di bawah lima tahun (balita). Selain asupan cairan yang memadai, suplemen zinc diketahui dapat membantu mengatasi kondisi tersebut.

Secara global, angka kematian anak balita akibat diare masih tergolong tinggi. Indonesia termasuk negara berkembang yang masih bergulat dengan hal tersebut. Berdasarkan survei dan riset kesehatan dasar yang dilakukan Kementrian Kesehatan, diketahui diare masih menjadi penyebab utama kematian balita dengan penyebab utama penanganan yang tidak tepat.

Mengurangi Tingkat Keparahan Diare

Tanpa penanganan yang tepat, diare dapat mengakibatkan kekurangan nutrisi, daya tahan tubuh terhadap infeksi menurun dan gangguan tumbuh kembang pada anak. Pada balita, diare yang parah berisiko menyebabkan dehidrasi hingga kematian. Terutama pada penderita diare dengan daya tahan tubuh yang rendah ataupun kekurangan nutrisi di dalam tubuh.

Pemberian suplemen zinc merupakan salah satu cara yang dimanfaatkan untuk membantu mengatasi diare pada balita, bersama dengan pemberian cairan untuk rehidrasi.

Rekomendasi yang diberikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF untuk balita yang mengalami diare akut yaitu pemberian suplemen zinc selama 10-14 hari. Untuk bayi di bawah 6 bulan, pemberian suplemen zinc sekitar 10 mg per hari.  Sementara itu, untuk balita yaitu 20 mg suplemen zinc per hari.

Selain itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan pemberian suplementasi zinc dapat diberikan secara rutin pada bayi usia 6-23 bulan, setidaknya selama 2 bulan, tiap 6 bulan sekali.

Menurut penelitian, pemberian suplemen zinc pada balita menunjukkan hasil yang positif. Balita yang diberikan suplemen zinc lebih sedikit mengalami diare, disentri dan infeksi saluran pernapasan. Pemberian suplemen zinc juga dinilai mampu memberi efek positif dalam menurunkan angka kematian bayi terkait penyakit infeksi.

Mendukung Pertumbuhan Sel dan Metabolisme

Sebenarnya dalam kondisi normal pun, tubuh tetap membutuhkan zinc sebagai mineral untuk menjaga kesehatan. Zinc diketahui bermanfaat untuk pertumbuhan sel dan menjaga metabolisme tubuh.

Kekurangan zinc akan menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi dan tumbuh kembang anak. Sayangnya, tubuh tidak memiliki kemampuan untuk menyimpan zinc, itu sebabnya asupan mineral tersebut dibutuhkan setiap hari.

Anak usia 1-3 tahun membutuhkan sekitar 3 mg per hari, sedangkan usia 4-8 tahun sekitar 5 mg per hari. Pada orang dewasa kondisi normal, zinc dibutuhkan sekitar 8 mg. Sementara itu, untuk wanita hamil sekitar 11 mg dan wanita menyusui 12 mg per hari.

Selain memanfaatkan suplemen zinc, Anda juga bisa memberikan beberapa jenis makanan yang kaya kandungan zinc seperti daging, ayam, tiram, lobster, kepiting, keju, oatmeal, kacang mete, dan sereal yang difortifikasi zinc.

Untuk mengatasi diare, langkah pertama yang harus dilakukan yaitu memberikan asupan cairan yang mencukupi. Penggunaan suplemen zinc atau obat untuk mengatasi diare pada balita, sebaiknya melalui konsultasi dokter anak.

Ditinjau oleh: dr. Allert Noya

Reference:
Bajait, C., & Thawani, V. NCBI (2011). Role of zinc in pediatric diarrhea. Indian journal of pharmacology, 43(3), 232-5. 
Wirahmadi, A. Ikatan Dokter Anak Indonesia – IDAI (2017). Perlukah suplementasi vitamin dan mineral pada bayi dan anak? 
World Health Organization. Zinc supplementation in the management of diarrhoea. 
Web MD. Vitamins & Supplements. Zinc. 
Baby Center (2016). Zinc in your child's diet. 
Markham, H. Health. 13 Zinc-Rich Foods.

alodokter