Chronic obstructive pulmonary disease (COPD) is an irreversible airflow blockage that progressively occurs in the patients. 1This condition is caused by the chronic inflammatory response of noxious stimuli that could also be partly reversible. According to the statistic, this condition is mostly found in 9-10% adults aged above 40 years old, and has been reported to be the 4th leading cause of death in the world. 2-4

COPD commonly occurs in lean, malnourished or undernourished patients and usually referred as “pulmonary cachexia syndrome”. Patients with COPD are characterized by loss of fat-free body mass leading to muscle wasting. The pathophysiology of PCS is still unclear although there are several contributing factors such as disuse atrophy, metabolism change and caloric intake, tissue hypoxia, aging, oxidative stress, inflammation, and medications (glucocorticoids) and malnutrition. Muscle wasting is one of the major determinants of mortality in COPD, besides the airflow obstruction.5-7

The poor nutrition in COPD patients leads to many complications in breathing relating to lung function, such as increased gas trapping, lower diffusing and exercise capacities. Loss of respiratory muscles as a result of loss of body cell mas can be also found in malnourished COPD patients. Some clinical sequel such as hypercapnic respiratory failure, dependence in mechanical ventilation, and nosocomial lung infections are some of the effects that might occur in the patients. 8

Nutritional treatment with supplement therapy has been maintained in COPD management and for a long time has shown promising results. Supplement therapy has been strongly advised in patients with body weight loss and muscle wasting, as these two conditions have been associated with increased morbidity and mortality in the patients.

Screening for malnutrition

The nutritional status of the patients is screened every 6-12 months or at the time of routine visits. The assessments include the measurement of BMI (<= 20) and the ideal body weight (<90% is advised). The goals of this assessment are to determine the lung function and the efficacy of nutritional therapy. The patients can be advised to exerciseregularly as this can stimulate appetite and result in more effective nutritional therapy.[4] 9

Nutritional interventions

The nutritional management in COPD patients aims to increase pulmonary function, maintain muscle strength and exercise tolerance, preserve micronutrients and macro nutrition, and relief inflammation[5] . There are several types of food to consume for these patients.

High fat low carbohydrate

It has been proposed from previous research that patients with COPD demonstrate significant improvements in pulmonary function by high fat low carbohydrate diet compared to traditional[6] high carbohydrate diet.1

Omega-3 Polyunsaturated Fatty acids (PUFA)

PUFA has been proven to relief inflammation with its anti-inflammatory effects, which is found to be beneficial in chronic inflammatory disease such as COPD dan malnourished patients. 11

Vitamin D

Vitamin D has immune modulatory effects and helps to decrease myopathy/muscle weakness. A vitamin D deficiency has been correlated with early progression/developments of COPD.[7] 12

Fruits and Vegetable

The antioxidants effect, minerals, vitamins, flavonoids, phytochemicals, and fibers in fruits and vegetablesare found to play important role in the relief of chronic and acute respiratory condition

Other recommendations to improve nutritional management of COPD patients are with frequent small feeding, resting before meals, and taking daily dose of multivitamins. Researches have found that nutritional supplementation encourage significant nutritional improvements in the patients.9



● The nutritional management in COPD patients aims to increase pulmonary function, maintain muscle strength and exercise tolerance, preserve micronutrients and macro nutrition, and relief inflammation.

● Supplement therapy has been strongly advised in patients with body weight loss and muscle wasting, as these two conditions have been associated with increased morbidity and mortality in the patients.


1. Global strategy for the diagnosis, management, and prevention of chronic obstructive pulmonary disease: Revised 2015. Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD). Available at: www. Last accessed on November 2, 2015.

2. Halbert RJ, Natoli JL, Gano A, Badamgarav E, Buist AS, Mannino DM. Global burden of COPD: systematic review and meta-analysis. Eur Respir J 2006; 28:523–32.

3. Mannino DM, Buist AS. Global burden of COPD: risk factors, prevalence, and future trends. Lancet 2007; 370: 765–73.

4. Decramer M, Janssens W, Miravitlles Chronic obstructive pulmonary disease. Lancet 2012; 379: 1341–51.

5. Vestbo J, Prescott E, Almdal T, Dahl M, Nordestgaard BG, Andersen T, et al. Body mass, fat-free body mass, and prognosis in patients with chronic obstructive pulmonary disease from a random population sample: findings from the Copenhagen City Heart Study. Am J Respir Crit Care Med 2006;173:79–83.

6. Scheepers CA, Wouters EF. Body composition and mortality in chronic obstructive pulmonary disease. Am J Clin Nutr 2005; 82:53–9.

7. Collins PF, Stratton RJ, Elia M. Nutritional support in chronic obstructive pulmonary disease: A systematic review and meta-analysis. Am J Clin Nutr 2012; 95: 1385–95.

8. Ezzel L. Jensen GL. Malnutrition in Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Am J Clin Nutr 2000;72:1415–6.

9. Rawal G. Yadav S. Nutrition in Chronic Pulmonary Obstructive Disease. Journal of Translational Internal Medicine. 2015;3(4).

10. Cai B, Zhu Y, Ma Yi, Xu Z, Zao Yi, Wang J, et al. Comer G.M. Effect of supplementing a high-fat, low-carbohydrate enteral formula in COPD patients. Nutrition 2003; 19: 229–32.

11. Rawal G, Yadav S, Shokeen P, Nagayach S. Medical nutrition therapy for the critically ill. Int J Health Sci Res 2015; 5: 384-93.

12. Persson LJ, Aanerud M, Hiemstra PS, Hardie JA, Bakke PS, Eagan TM. Chronic obstructive pulmonary disease is associated with low levels of vitamin D. PLoS One 2012; 7: e38934.

13. Persson LJP, Aanerud M, Hiemstra PS, Hardie JA, Bakke PS, et al. (2012) Chronic Obstructive Pulmonary Disease Is Associated with Low Levels of Vitamin D. PLoS ONE 7(6): e38934. doi:10.1371/journal.pone.0038934.

14. Shaheen SO, Jameson KA, Syddall HE, Aihie Sayer A, Dennison EM, Cooper C, et al. The relationship of dietary patterns with adult lung function and COPD. Eur Respir J 2010; 36: 277–84.


Pencegahan Eksema pada Bayi


  • Pemberian ASI dan pola makan ibu berperan penting dalam pencegahan eksema
  • Peningkatan kadar vitamin D pada bayi baru lahir dikaitkan dengan penurunan risiko mengalami eksema.
  • Pemberian pelembap secara rutin dapat membantu mencegah timbulnya eksema.

Perawatan bayi dengan eksema dapat menjadi masalah yang berat pada anggota keluarga maupun tenaga kesehatan. Pada umur tersebut, bayi hanya dapat menunjukkan rasa sakit melalui tangisan, yang sering menjadi tak tertahankan bagi para orang tua. Terkadang dokter anak, dokter kulit, dan dokter umum mengalami kesulitan dalam menangani atau mencegah eksema pada bayi. Area yang paling terpengaruh pada bayi adalah tangan, leher, siku, dan bagian belakang lutut. Cara terbaik untuk menghentikan atau meminimalisasi eksema pada bayi adalah dengan membantu memberikan rekomendasi kepada pasien dalam melakukan langkah-langkah pencegahan.

Nutrisi dan Alergi Makanan

Pemberian ASI dan pola makan ibu berperan penting dalam pencegahan eksema. Sebagian besar penderita eksema adalah bayi atau anak yang masih kecil. Dapatkah intervensi non- farmakologi mencegah atau meredakan perkembangan penyakit ini? Apakah pemberian ASI dan perubahan pola makan ibu dapat mencegah timbulnya eksema? BerdasarkanAmerica Academy of Pediatrics, ibu yang menyusui disarankan berhenti mengkonsumi makanan yang dapat memicu alergi seperti kacang-kacangan, contohnya kacang mete. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemberian ASI hingga usia 2 tahun untuk mencegah eksema. 1

Berdasarkan pedoman Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy (ASCIA) tentang pemberian makan bayi, wanita hamil dan menyusui disarankan mengkonsumsi 3 porsi ikan (dengan kandungan omega-3) setiap minggu, yang dapat menurunkan kemungkinan terjadinya eksema pada bayi. Ikan yang disarankan adalah salmon, ikan belanak, silver perch, trout pelangi, tuna, sarden, dan kakap. 2

Kadar Vitamin D yang Rendah

Sebuah penelitian yang dilakukan pada wanita hamil, menemukan bahwa bayi dengan kadar vitamin D rendah saat dilahirkan memiliki risiko tertinggi mengalami eksema pada usia 5 tahun. 3

Dari penelitian yang diterbitkan pada tahun 2012 di Australia, para peneliti meneliti kadar vitamin D pada ibu dan bayi serta meneliti apakah bayi tersebut kemudian mengalami eksema. Mereka menemukan beberapa fakta: 4

  • Eksema sering terjadi pada bayi; sekitar sepertiga bayi mengalami eksema
  • Rendahnya kadar vitamin D saat lahir ditemukan pada bayi yang menderita eksema di satu tahun pertama kehidupannya.
  • Setiap peningkatan kadar vitamin D sebanyak 4 ng/ml pada bayi dikaitkan dengan penurunan risiko menderita eksema sebesar 13%.

Pemberian Pelembap Rutin

Terapi topikal adalah dasar dari pencegahan eksema dan apabila digunakan dengan intervensi lain dapat juga menghindari komplikasi. Penggunaan pelembap secara teratur dapat meningkatkan fungsi pertahanan kulit dan mengurangi kehilangan air trans-epidermal, sehingga menjaga dan meningkatkan hidrasi kulit. Pelembap telah diindikasikan sebagai terapi utama, terutama pada eksema ringan dan terapi tambahan untuk kasus sedang atau berat. Secara klinis, pelembap dapat mengurangi tanda dan gejala eksema, seperti eritema, pecah-pecah, dan pruritus, sehingga mengurangi gejala klinis berupa gatal-gatal dan luka goresan. 5

Berdasarkan sebuah penelitian yang dipresentasikan di Konferensi dan Kongres Ilmiah Internasional dari Asosiasi Alergi dan Imunologi Brazil di Rio de Janeiro, dapat disimpulkan bahwa penggunaan pelembap sejak lahir adalah pendekatan yang mudah, aman, dan efektif untuk pencegahan eksema. 6

Langkah Pencegahan Lain

  • Perlindungan Kulit: Dokter dapat menyarankan penggunaan pelembap setiap hari secara rutin untuk menghindari terjadinya eksema, penggunaan sabun pada kulit sensitif bayi, dan memberikan pakaian berbahan katun. Beberapa anak mungkin membutuhkan kompres yang fungsinya mendinginkan, melindungi dan merehidrasi kulit. Beberapa anak juga dapat merasakan manfaat dengan menggunakan sarung tangan saat malam hari dan menjaga kukunya tetap pendek.
  • Mengobatai Serangan Eksema: Ketika gejala muncul, berikan terapi salep, krim atau losion untuk kulit kering dan sensitif .

Begitu eksema tercetus, dokter harus membuat rencana pengurangan dan pencegahan eksema, yang akan membantu terapi apakah yang paling efektif saat terjadinya serangan.


  1. Breastfeeding and role of atopic dermatitis.
  2. ASCIA Guidelines – infant feeding and allergy prevention.
  3. Vitamin D level in children is correlated with severity of atopic dermatitis but only in patients with allergic sensitizations
  4. Correlation between serum 25-hydroxyvitamin D levels and severity of atopic dermatitis in children.
  5. Guidelines of care for the management of atopic dermatitis: Section 2. Management and treatment of atopic dermatitis with topical therapies.
  6. Application of moisturizer to neonates prevents development of atopic dermatitis.

Dermatitis Atopik pada Anak


  • Dermatitis atopik adalah kondisi kulit yang kronis, kambuh, dan pruritus akibat gangguan penghalang epitel dan disregulasi imun yang terkait.
  • Dermatitis popok memiliki prevalensi 7% hingga 35% dan insidensi puncak pada usia sekitar 6 hingga 9 bulan.
  • Kondisi ini membutuhkan evaluasi serial untuk resolusi yang tepat dan pengawasan untuk komplikasi.

Dermatitis atopik adalah kondisi kulit yang kronis, berulang, dan pruritus yang diakibatkan oleh gangguan barier epitel dan disregulasi imun terkait pada kulit host yang secara genetik memiliki predisposisi. Kondisi kulit inflamasi ini ditandai oleh pruritus, eritema, vesikel, dan sisik. Ini paling sering terjadi pada keluarga dengan riwayat medis atopi (rinitis alergi, konjungtivitis, asma, dan dermatitis atopik). 1

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Immunology and Allergy Clinics of North America:2

  1. 95% pasien yang didiagnosis dengan dermatitis atopik berusia 5 tahun ke bawah.
  2. Prevalensi seumur hidup penyakit ini adalah 17%.

Kolonisasi Staphylococcus aureus umum terjadi dan dapat berkontribusi terhadap perkembangan penyakit dan tingkat keparahan. Terapi yang ditargetkan untuk mengembalikan barier kulit yang rusak dan pengendalian peradangan diperlukan untuk hasil yang optimal pada anak-anak dengan penyakit sedang hingga berat. 3 Studi telah menunjukkan penurunan lipid kulit, yang mengubah kapasitas pengikatan air. Hal ini semakin mengarah pada dehidrasi kulit, pruritus, dan goresan yang menghasilkan lesi kulit yang khas. Pada bayi muda, papula, patches, atau vesikel eritematosa yang bersisik biasanya muncul pada wajah, permukaan ekstensor kaki, dan lebih jarang pada batang tubuh. Pada anak yang lebih tua ditemukan di permukaan lentur dan leher. Lesi ini tampak bersisik dan eritema dengan krusta, ekskoriasi, dan kulit liken. 4

Kecenderungan manajemen saat ini menargetkan gangguan yang diketahui seperti disfungsi barier kulit dan peradangan kulit, bersama dengan pengobatan (dalam beberapa kasus, profilaksis) dari infeksi terkait. Penyakit ini sering sangat menekan untuk anak-anak dan orang tua, yang dapat diobati dengan hidrasi kulit dan anti-inflamasi topikal. Perawatan lain termasuk penggunaan emolien, kortikosteroid topikal, dan antihistamin. 5

Dermatitis Popok

Dermatitis popok bukan salah satu entitas spesifik tetapi menggabungkan semua erupsi inflamasi yang terjadi di daerah popok, termasuk dermatitis popok iritasi dan dermatitis popok Candida. Dermatitis popok memiliki prevalensi 7% hingga 35% dan insidensi puncak pada usia sekitar 6 hingga 9 bulan. 6 Hal ini dipicu oleh lingkungan yang basah, tersumbat, dan termaserasi di daerah popok. Iritan lain termasuk gesekan, deterjen popok, desinfektan, pH basa, dan feses. 7

Pencegahan dan manajemen dapat dicapai dengan mengedukasi keluarga pasien dengan langkah- langkah pencegahan sebagai berikut: 8

  • Sering mengganti popok
  • Gunakan popok dengan penyerapan tinggi.
  • Hindari popok kain, celana popok plastik atau karet.
  • Penggunaan barier seperti seng oksida, petroleum, atau bubuk talk dapat membantu melindungi kulit dari maserasi.
  • Pengobatan infeksi jamur dengan krim antijamur topikal seperti nistatin, clotrimazole, atau miconazole.

Dermatitis Seboroik (Cradle Cap)

Dermatitis seboroik adalah penyakit peradangan kronis dengan etiologi yang tidak diketahui dengan distribusi bimodal — bayi yang lebih muda dari 6 bulan, remaja pasca pubertas, dan dewasa muda. Ini tampak sebagai ruam berwarna salmon dengan sisik berminyak kuning atau putih yang menyebar di daerah dengan konsentrasi kelenjar sebasea yang tinggi. 9

Lesi biasanya terletak di kulit kepala tetapi mungkin menyebar melibatkan dahi, lipatan hidung, alis, dan daerah popok. Lesi biasanya tidak gatal atau menyakitkan. Hal ini dapat berhasil diobati dengan oatmeal baths dan sampo anti-seboroik (sampo tar, selenium sulfida). Ketoconazole telah terbukti efektif. Jika sisiknya sangat tebal atau melekat, sisiknya melonggar dengan mineral oil hangat dan penggunaan sisir bergigi sebelum keramas cepat untuk membersihkan. Jika lesi sangat resisten terhadap perawatan ini, preparat kortikosteroid dapat digunakan.

Entitas-entitas ini umum di sebagian besar keluarga dan dapat dengan mudah dikelola oleh dokter anak. Semua kondisi di atas memerlukan evaluasi serial untuk resolusi dan pengawasan yang tepat untuk komplikasi.


  1. Clinical Diversity of Atopic Dermatitis: A Review of 5,000 Patients at a Single Institute.
  2. Atopic Dermatitis: Beyond the Itch that Rashes.
  3. Pathways to Managing Atopic Dermatitis: Consensus From the Experts.
  4. Diagnosis of Atopic Dermatitis: Mimics, Overlaps, and Complications.
  5. Challenges and opportunities in dermal/transdermal delivery.
  6. Clinical effectiveness of barrier preparations in the prevention and treatment of nappy dermatitis in infants and preschool children of nappy age.
  7. Diaper dermatitis: a review and update.
  8. Prevention and treatment of diaper dermatitis.
  9. Approach to the Pediatric Patient with a Rash.