Rokok Elektrik: Sarana Berhenti Merokok atau Justru Latihan Merokok?

KONTROVERSI ROKOK ELEKTRIK

Jakarta – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tengah menyiapkan regulasi untuk rokok elektrik. Kebijakan ini muncul ketika popularitas vaping tengah menanjak, tidak hanya di Indonesia melainkan di seluruh dunia.

Begitu populernya rokok elektrik, sampai-sampai Oxford Dictionary menetapkan ‘vape’ sebagai word of the year atau kata terpopuler tahun ini. Vape merupakan istilah untuk menyebut aktivitas mengisap nicotin vapour atau uap nikotin dengan menggunakan rokok elektrik.

Di Amerika Serikat, tercatat pengguna rokok elektrik pada 2012 mencapai 1,78 juta orang. Angka ini disebut-sebut meningkat dua kali lipat dari 2011, dan diperkirakan akan terus bertambah. Di Indonesia, Global Youth Tobacco Survey tahun 2011 mengungkap 11 persen orang Indonesia tahu tentang rokok elektrik dan 0,3 persen di antaranya adalah pengguna.

Menariknya, salah satu alasan menggunakan rokok elektrik adalah sebagai sarana berhenti merokok tembakau. Dengan tegas, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan Prof Dr Tjandra Yoga Aditama, SpP(K) membantah anggapan ini.

“Tidak benar kalau rokok elektrik dipakai sebagai alat bantu berhenti merokok. Karena secara ilmiah diteliti itu tidak bermanfaat untuk berhenti merokok, jadi bukan bagian dari alat berhenti merokok,” kata Prof Tjandra, seperti ditulis Rabu (19/11/2014).

Meski tidak mengeluarkan asap, rokok elektrik oleh Kemenkes tetap dianggap sebagai cara lain untuk memasukkan nikotin ke dalam tubuh. Bahkan ketika sebagian produk rokok elektrik diklaim tidak mengandung nikotin, risiko kecanduan nikotin tetap perlu diwaspadai.

“Ini hanya sebagai awal atau permulaan. Lalu kemudian dimasukkan nikotin dan lama-lama kadar nikotinnya dinaikkan‎. Jadi, seperti sengaja ‘dilatih’ untuk jadi perokok,” kata Prof Tjandra.

Organisasi Kesehatan Dunia, WHO mengakui masih butuh banyak penelitian tentang rokok elektrik, khususnya terkait iklan dan pemakaian alat ini di dalam ruang tertutup. Yang jelas, perputaran uang di industri rokok elektrik diperkirakan terus tumbuh hingga mencapai triliunan rupiah tiap tahun.

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Comments are closed.